Sabtu, 25 April 2015

MATERIAL BAHAN BANGUNAN YG RAMAH LINGKUNGAN


MATERIAL BAHAN BANGUNAN RAMAH LINGKUNGAN


MATERIAL BAHAN BANGUNAN RAMAH LINGKUNGAN
Pemanfaatan material bekas atau sisa untuk bahan renovasi bangunan juga dapat menghasilkan bangunan yang indah dan fungsional. Kusen, daun pintu atau jendela, kaca, teraso, hingga tangga dan pagar besi bekas masih bisa dirapikan, diberi sentuhan baru, dan dipakai ulang yang dapat memberikan suasana baru pada bangunan. Lebih murah dan tetap kuat.
Material ramah lingkungan memiliki kriteria sebagai berikut;
a. tidak beracun, sebelum maupun sesudah digunakan
b. dalam proses pembuatannya tidak memproduksi zat-zat berbahaya bagi lingkungan
c. dapat menghubungkan kita dengan alam, dalam arti kita makin dekat dengan alam karena kesan alami dari material tersebut (misalnya bata mengingatkan kita pada tanah, kayu pada pepohonan)
d. bisa didapatkan dengan mudah dan dekat (tidak memerlukan ongkos atau proses memindahkan yang besar, karena menghemat energi BBM untuk memindahkan material tersebut ke lokasi pembangunan)
e. bahan material yang dapat terurai dengan mudah secara alami
Material yang ramah lingkungan menurut kriteria diatas misalnya; batu bata, semen, batu alam, keramik lokal, kayu, dan sebagainya. Ramah lingkungan atau tidaknya material bisa diukur dari kriteria tersebut atau dari salah satu kriteria saja, seperti kayu yang makin sulit didapat, tapi bila dipakai dengan hemat dan benar bisa membuat kita merasa makin dekat dengan alam karena mengingatkan kita pada tumbuh-tumbuhan.
Semen, keramik, batu bata, aluminium, kaca, dan baja sebagai bahan baku utama dalam pembuatan sebuah bangunan berperan penting dalam mewujudkan konsep bangunan ramah lingkungan.
Untuk kerangka bangunan utama dan atap, kini material kayu sudah mulai digantikan material baja ringan. Isu penebangan liar (illegal logging) akibat pembabatan kayu hutan yang tak terkendali menempatkan bangunan berbahan kayu mulai berkurang sebagai wujud kepedulian dan keprihatinan terhadap penebangan kayu dan kelestarian bumi. Peran kayu pun perlahan mulai digantikan oleh baja ringan dan aluminium.
Baja ringan dapat dipilih berdasarkan beberapa tingkatan kualitas tergantung dari bahan bakunya. Rangka atap dan bangunan dari baja memiliki keunggulan lebih kuat, antikarat, antikeropos, antirayap, lentur, mudah dipasang, dan lebih ringan sehingga tidak membebani konstruksi dan fondasi, serta dapat dipasang dengan perhitungan desain arsitektur dan kalkulasi teknik sipil.
Kusen jendela dan pintu juga sudah mulai menggunakan bahan aluminium sebagai generasi bahan bangunan masa datang. Aluminium memiliki keunggulan dapat didaur ulang (digunakan ulang), bebas racun dan zat pemicu kanker, bebas perawatan dan praktis (sesuai gaya hidup modern), dengan desain insulasi khusus mengurangi transmisi panas dan bising (hemat energi, hemat biaya), lebih kuat, tahan lama, antikarat, tidak perlu diganti sama sekali hanya karet pengganjal saja, tersedia beragam warna, bentuk, dan ukuran dengan tekstur variasi (klasik, kayu).
Bahan dinding dipilih yang mampu menyerap panas matahari dengan baik. Batu bata alami atau fabrikasi batu bata ringan (campuran pasir, kapur, semen, dan bahan lain) memiliki karakteristik tahan api, kuat terhadap tekanan tinggi, daya serap air rendah, kedap suara, dan menyerap panas matahari secara signifikan.
Kehalusan permukaan dan warna bahan bangunan sangat menentukan iklim mikro di sekitar bangunan, warna cerah dan permukaan licin adalah pemantul sinar matahari yang baik dan menaikkan suhu sekitar. Warna gelap dan permukaan kasar akan membantu meredam dan menyerap sinar dan panas matahari. Bahan bangunan berpori mudah meluncurkan panas dan meluncurkannya kembali jika suhu udara disekitarnya menurun. Sangat bijaksana jika memanfaatkan bahan-bahan bangunan alami seperti aslinya untuk pelapis dinding dan lantai luar.
Berikiut adalah contoh contoh pemanfaatan bahan bangunan alami (ramah lingkungan):
  • GENTENG SEJUK
Genteng semen ijuk adalah genteng beton yang dibuat  dengan  campuran pasir, semen dan ijuk sebagai bahan pengisi.
Manfaat
  • Menunjang program pembangunan RS/RSS dan Rusun
  • Menciptakan lapangan kerja
  • Digunakan sebagai penutup atap
Spesifikasi Teknis
 Bahan baku
:
 semen + ijuk + pasir
 Ukuran
:
 38 x 23 1.2 cm
 Berat
:
 2.5 kg/bh
 Beban Lentur
:
 80 kg/cm2
  • PANEL SERAT TEBU
Pengembangan bahan bangunan dari limbah tebu menjadi papan serat tebu
Manfaat
  • Menunjang program pembangunan RS/RSS dan Rusun
  • Mengurangi pencemaran lingkungan
  • Menciptakan lapangan kerja
  • Digunakan untuk langit-langit dan dinding partisi non-struktural
Spesifikasi Teknis
 Bahan baku
 :
 ampas tebu + semen
 Ukuran
 :
 240 x 60 x 2.5 cm
 Kuat Lentur
 :
 40 – 50 kg/cm2
  • PANEL SEKAM PADI
Salah satu pengembangan bahan bangunan dari limbah sekam padi menjadi Papan Sekam Padi
Manfaat
  • Menunjang program pembangunan RS/RSS dan Rusun
  • Mengurangi pencernaran lingkungan
  • Menciptakan lapangan kerja
  • Digunakan untuk langit-langit dan dinding partisi non-strukutral
Proses Pembuatan
Sekam padi direndam dalam air atau dapat langsung digiling, dicampur dengan semen,dicetak dengan alat manual. Proporsi campuran = 1 semen : 4 sekam padi atau maksimum 20%
  • SAWIT BLOCK
Pengembangan bahan bangunan dari limbah SAWIT menjadi Conblock.
Manfaat
  • Menunjang program pembangunan RS/RSS dan Rusun
  • Mengurangi pencemaran lingkungan
  • Menciptakan lapangan kerja
  • Digunakan untuk dinding partisi non-struktural
Spesifikasi Teknis
 Komposisi camp.
 :
 1 PC : 6 Agregat ( 20% Limbah + 80% Pasir)
 Ukuran
 :
 8 x 20 x 40 cm
 Kuat Lentur
 :
 25 kg – 35 kg / cm2

·      

 

 

Papercrate (kertas bekas sebagai bahan dinding)

Kertas bekas yang dimaksud disini adalah berupa kertas yang mempunyai tekstur kasar seperti kertas Koran atau kardus, yang dihancurkan menjadi semacam bubur kertas dan diolah lagi menjadi bata kertas agar dapat digunakan untuk penggunaan lebih lanjut sebagai material bahan bangunan.

SPESIFIKASI KERTAS BEKAS (PAPERCRATE)
· Mempunyai massa dan berat yang sangat ringan
· Bersifat lembek, sehingga mudah dibentuk
· Cukup kuat dalam menahan gaya vertikal
· Mempunyai bentuk yang ramping, sehingga memudahkan dalam pengemasan dan distribusinya
KELEBIHAN PENERAPAN KERTAS BEKAS (PAPERCRATE) PADA DINDING
  • Mampu menyerap panas
  • Meredam suara / kebisingan
  • Tidak mengandung racun
  • Biaya produksi murah
  • Daya kering yang cepat
  • Penggunaan semen yang sedikit.
 Linoleum: Bahan Pelapis Lantai Ramah Lingkungan

Bahannya elastis, tersusun dari material anorganik dan organik. Pilihan warna dan ragam yang banyak memberi keuntungan untuk desain-desain masa kini. Bahan pelapis lantai ini populer di Eropa. Banyak pilihan warna dan desainnya. Produk ini bisa menjadi alternatif bahan untuk lantai rumah kita, lantai area komersial, bahkan rumah sakit karena mudah dipasang, dirawat, dan dibersihkan. Untuk memasangnya hanya butuh permukaan rata seperti lantai semen, lalu diberi perekat khusus. Kalau mau afdol, perekatnya juga pakai  yang  ramah lingkungan.  

            Sebagai bahan lantai, jika tak lagi dibutuhkan, Linoleum   mudah diurai kembali oleh tanah, alias ramah lingkungan. Inilah yang  menjadi salah satu kelebihannya. Standar Eropa yang ketat tentang material ramah lingkungan membuat bahan ini dipergunakan sebagai salah satu alternatif pilihan para desainer. Syarat yang ketat itu bisa dipenuhi oleh bahan pelapis Linoleum ini. Ada satu hal penting juga yang menjadi keunggulan, yaitu daya tahannya terhadap  panas, dan tahan terhadap api lebih baik dari  plastik dan kain.
            Linoleum, bahan yang terbuat dari bahan alami yang terukur dan dihasilkan dari sumber daya yang bisa diperbaharui. Terdapat setidaknya enam bahan utama, linseed oil, rasin, woodfloor, limestone, pigment, jute . Linoleum pada produk lantai terbagi menjadi tiga bentuk produk, yakni marmoleum yang menampilkan motif-motif warna dan corak alami, artoleum yang menampilkan corak kayu, dan Walton yang menghasilkan corak-corak yang memiliki tekstur.

·       

TEMPURUNG KELAPA 

Salah satu bagian pohon kelapa yang pada saat ini belum banyak digunakan adalah tempurung kelapa (batok) kelapa. Tempurung kelapa yang banyak dijumpai di pasar-pasar tradisional dari sisa pemecahan buah kelapa saat ini sebagian besar digunakan sebagai bahan bakar. Sebenarnya, tempurung kelapa (atau sisa berupa pecahan-pecahan) dapat ditingkatkan kualitasnya menjadi bahan yang lebih bermanfaat dibanding hanya sebagai bahan bakar saja. Oleh karena itu melalui rekayasa yang tepat, maka tempurung kelapa dapat dibentuk menjadi mozaik ubin bahan bangunan yang antik, unik, alami dan menarik
SPESIFIKASI TEMPURUNG KELAPA

  • Mempunyai bentuk asli berupa serat – serat serabut 
  • Cukup empuk dan hangat 
  • Bersifat sedikit tembus pandang sehingga terlihat pengisinya
  • Mampu menyerap panas 
  • Cukup baik untuk aplikasi akustik (menyerap bunyi karena rongga pada serat)
  • Tahan air 

ARSITEKTUR RAMAH LINGKUNGAN

ARSITEKTUR RAMAH LINGKUNGAN : Prinsip Hijau untuk Semua Langgam
Penggunaan tanaman berdaun lebat untuk melindungi area atap dan dinding bisa mengurangi paparan sinar matahari langsung sehingga bagian dalam rumah lebih sejuk . Ketika kesadaran mengenai konservasi energi dan lingkungan kembali berkembang, konsep green living pun mengemuka. Tapi mungkin timbul pertanyaan, rumah dengan gaya arsitektur seperti apakah yang pas untuk menerapkan konsep hidup selaras dengan alam itu?
Kalangan arsitek pun menjabat tegas: semua langgam arsitektur bisa masuk! Ini karena konsep hijau atau ramah lingkungan itu lebih menekankan pada perilaku atau pola pikir penghuninya. Sebuah rumah bisa dikatakan sebagai rumah ramah lingkungan ketika penghuni rumah menerapkan sejumlah parameter dalam green building (bangunan ramah lingkungan).
10vertical garden 600x400 ARSITEKTUR RAMAH LINGKUNGAN : Prinsip Hijau untuk Semua Langgam
Taman Gantung
Aplikasi hijau itu tak sekadar banyak tanaman, tetapi ada perhitungan-perhitungan tertentu dan banyak pertimbangan mulai dari perencanaan, pemilihan material, pengolahan limbah, pengoptimalan sumber daya alam, penghematan energi dan seterusnya, termasuk memperhatikan aspek sosial-ekonominya. Seorang arsitek Solo, pemilik Rumah Rempah Karya Colomadu, Karanganyar, Paulus Mintarga, menyebut semua perhitungan dan pertimbangan itu dengan istilah holistic sustainability.
Sementara, tampilan rumah lebih umum disebut dengan gaya atau langgam. Seorang arsitek Solo, Dian Ariffianto, mengatakan banyak sekali langgam dalam arsitektur. Apa pun langgamnya, selama rumah itu menggunakan prinsip-prinsip dalam green building, menurut Dian, rumah tersebut bisa dikatakan sebagai rumah ramah lingkungan, sehingga langgam itu tidak menjadi parameter dalam penilaian green building.
“Sebenarnya ada perhitungan khusus untuk mengetahui sebuah rumah itu ramah lingkungan atau tidak, yakni jejak karbon. Salah satu yang terpenting bagaimana menyiasati rumah untuk tetap nyaman dan mampu menghadapi iklim tropis yang kaya sinar matahari, yakni dengan langgam apa pun tetapi tetap berkonsep menjadi rumah ramah lingkungan. Misalnya untuk menyikapi iklim tropis, ketika konsep ramah lingkungan diterapkan pada langgam minimalis, tentu harus menambah tritisan atau pembayangan (shading) pada bukaan yang ada. Hal itu dilakukan agar sinar matahari tidak langsung masuk ke rumah. Radiasi ultraviolet sinar matahari bisa menyebabkan ruangan panas, sehingga tidak nyaman,” ujar Dian saat dihubungi Espos, Selasa (9/7).
10tumbuhan pelindung sinar matahari 600x450 ARSITEKTUR RAMAH LINGKUNGAN : Prinsip Hijau untuk Semua Langgam
Tanaman Pembatas Dinding

Menurut Dian, sinar matahari itu harus direduksi sedemikian rupa dengan logika desain tertentu. Sedangkan cahaya (terang) matahari, jelas dia, dimanfaatkan untuk menerangi ruangan di siang hari agar tidak membutuhkan lampu lagi. Di sisi lain, penggunaan air conditioning (AC) pun bisa dihindari dengan mereduksi dinding yang terkena sinar matahari itu. Dengan mereduksi sinar matahari dan memanfaatkan cahaya matahari maka setiap ruang dalam rumah bisa nyaman dan hemat energi. Teknik ini merupakan salah satu prinsip dalam green building.
Pengajar Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Alpha Febela Priyatmono, saat ditemui Espos, Rabu (10/7), menambahkan setelah pengawasan sudah tertata maka orientasi bangunan rumah juga harus diperhatikan. Orientasi rumah lebih baik menghadap ke selatan atau utara. “Orientasi rumah itu diperhitungkan, mengingat sinar matahari datang dari timur dan barat. Kuncinya jangan sampai melakukan pemborosan energi, terutama listrik dan air. Agar tidak boros air, maka pengolahan limbah diperlukan agar limbah rumah tangga tak meracuni lingkungan sekitar. Selain itu juga menjaga hubungan dengan lingkungan sekitar,” jelasnya.
Bagi Alpha, bangunan ramah lingkungan itu mengarah pada arsitektur berkelanjutan. Dalam praktiknya, Alpha berpesan harus memperhatikan aspek ekonomis dan bisa memunculkan budaya lokalnya. Arsitektur berkelanjutan itu, menurut Alpha, harus mencakup tiga hal tersebut, yakni ramah lingkungan, ekonomis dan adaptif dengan muatan lokal.
10tritisan hijau1 600x414 ARSITEKTUR RAMAH LINGKUNGAN : Prinsip Hijau untuk Semua Langgam
Rumput Penutup Atap Titisan
Dalam konteks langgam rumah, Alpha berpendapat gaya minimalis masih menjadi tren sejak tahun 2000-kini. Sebelum tahun 2000, Alpha menjelaskan rumah-rumah banyak menggunakan gaya country atau rumah lokal pedusunan. “Saya rasa rumah masa 1980 hingga 1990-an, itu lebih banyak menggunakan tritisan dan lebih nyaman daripada rumah gaya minimalis. Sekarang persepsi penghuni ketika membuat rumah pasti ber-AC. Mestinya mindset masyarakat ini diubah, yakni bagaimana mendesain bangunan tanpa AC,” pungkasnya.


Kriteria Bangunan Ramah Lingkungan
Pada Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 08 Tahun 2010, tentang kriteria dan sertifikasi bangunan ramah lingkungan, Bab II pasal 4 dijelaskan bahwa kriteria bangunan ramah lingkungan sebagai berikut:
1. Menggunakan material bangunan yang ramah lingkungan yang antara lain meliputi:
a. Material bangunan yang bersertifikat eco-label
b. Material bangunan lokal.
2. Terdapat fasilitas, sarana, dan prasarana untuk konservasi sumber daya air dalam bangunan gedung antara lain:
a. Mempunyai sistem pemanfaatan air yang dapat dikuantifikasi
b. Menggunakan sumber air yang memperhatikan konservasi sumber daya air
c. Mempunyai sistem pemanfaatan air hujan.
3. Terdapat fasilitas, sarana, dan prasarana konservasi dan diversifikasi energi antara lain:
a. menggunakan sumber energi alternatif terbarukan yang rendah emisi gas rumah kaca.
b. Menggunakan sistem pencahayaan dan pengkondisian udara buatan yang hemat energi.
4. Menggunakan bahan yang bukan bahan perusak ozon dalam bangunan gedung antara lain:
a. Refrigeran untuk pendingin udara yang bukan bahan perusak ozon.
b. Melengkapi bangunan gedung dengan peralatan pemadam kebakaran yang bukan bahan perusak ozon.
5. Terdapat fasilitas,sarana, dan prasarana pengelolaan air limbah domestikpada bangunan gedung antara lain:
a. Melengkapi bangunan gedung dengan sistem pengolahan air limbah domestik pada bangunan gedung fungsi usaha dan fungsi khusus
b. Melengkapi bangunan gedung dengan sistem pemanfaatan kembali air limbah domestik hasil pengolahan pada bangunan gedung fungsi usaha dan fungsi khusus.
6. Terdapat fasilitas pemilahan sampah
7. Memperhatikan aspek kesehatan bagi penghuni bangunan antara lain:
a. Melakukan pengelolaan sistem sirkulasi udara bersih;
b. Memaksimalkan penggunaan sinar matahari.
8. Terdapat fasilitas, sarana, dan prasarana pengelolaan tapak berkelanjutan antara lain:
a. Melengkapi bangunan gedung dengan ruang terbuka hijau sebagai taman dan konservasi hayati, resapan air hujan dan lahan parkir.
b. Mempertimbangkan variabilitas iklim mikro dan perubahan iklim.
c. Mempunyai perencanaan pengelolaan bangunan gedung sesuai dengan tata ruang.
d. Menjalankan pengelolaan bangunan gedung sesuai dengan perencanaan.
9. Terdapat fasilitas, sarana, dan prasarana untuk mengantisipasi bencana antara lain:
a. Mempunyai sistem peringatan dini terhadap bencana dan bencana yang terkait dengan perubahan iklim seperti: banjir, topan, badai, longsor dan kenaikan muka air laut.
b. Menggunakan material bangunan yang tahan terhadap iklim atau cuaca ekstrim intensitas hujan yang tinggi, kekeringan dan temperatur yang meningkat.
Perencanaan dan Perancangan Rumah yang Berwawasan Lingkungan
Susan Maxman, 2001, menegaskan bahwa, sebenarnya eko arsitektur atau arsitektur berwawasan lingkungan adalah bukan sebuah resep atau menu, itu merupakan pendekatan dan sikap saja, bahkan bukan sebuah label. Cukup menyebut arsitektur saja.
Namun di sini ingin ditekankan bagaimana perencanaan dan perancangan rumah dan lingkungan sebagai arsitektur hunian, memang memperhatikan ekologi.
Frick, Heinz, dan Suskiyatno, FX. Bambang, 1998, menyebutkan bahwa eko-arsitektur adalah :
1. Holistis, berhubungan dengan sistem keseluruhan, sebagai suatu kesatuan, yang lebih penting dari pada sekedar kumpulan bagianbagian.
2. Memanfatkan pengalaman manusia (tradisi dalam pembangunan) dan pengalaman lingkungan alam terhadap manusia.
3. Pembangunan sebagai proses dan bukan sebagai kenyataan tertentu yang statis.
4. Kerja sama antara manusia dengan alam sekitarnya demi keselamatan ke dua belah pihak.
Dari pendekatam tersebut (Frick, Heinz & Suskiyatno, Fx. Bambang, 1998) maka dapat dipahami bahwa kehidupan bukan menciptakan lingkungan menurut kebutuhannya, kehidupan bukan merupakan faktor penentu, melainkan suatu sistem keseluruhan, termasuk kehidupan dan lingkungan material.
Dalam arsitektur tradisional di Indonesia, pendekatan ekologis sudah sejak dahulu dilakukan secara turun temurun oleh nenek moyang kita, kendati barangkali landasan utamanya belum landasan teori dan keilmuan, melainkan lebih karena agama, kepercayaan atau mitos (Budihardjo, Eko,Prof. Dr. Ir. MSc, 2003).
Pada masa sekarang dalam membangun rumah, setidak-tidaknya memenuhi 4 (empat) syarat, yaitu :
1. Sehat, ditinjau dari segi kesehatan itu sendiri, sebuah rumah yang sehat memiliki hubungan yang baik dengan lingkungannya yang berkaitan dengan air, udara, tanah, iklim dan panas matahari (energi) serta flora dan fauna sekitar, sehingga memberi kesehatan optimal pada penghuninya baik fisik maupun psikis.
2. Cukup kuat dan aman, ditinjau dari segi teknis teknologis, sebuah rumah harus benar strukturnya, tahan gempa, angin, hujan dan unsur iklim lainnya, dan tahan terhadap berbagai beban struktur yang harus dipikul. Pemilihan bahan bangunannyapun yang relatif mudahdiperoleh dan tepat guna.
3. Relatif terjangkau, ditinjau dari kemampuan ekonomi penghunian serta keterjangkauan sosial.
4. Cukup indah dan nyaman, dalam arti memiliki desain yang baik,sebagai gabungan tiga syarat di atas, yang dapat memenuhi kebutuhan inderawi, rasa dan matra lainnya dari manusia.
Proses perencanaan dan perancangan (desain) yang berwawasan
lingkungan memperhatikan tiga tingkatan (Frick, Heinz & Suskiyatno, Fx.
Bambang, 2001) yaitu :
1. Perencanaan yang ekologis
2. Pembangunan dan kesehatan manusia dan lingkungan
3. Bahan bangunan yang sehat

Jumat, 24 April 2015


GREEN BUILDING

Tema green

Mencakup pada dua hal, yaitu green architecture dan green building. Kedua hal tersebut memiliki dua pengertian yang berbeda walaupun masih dalam satutujuan. Green disini tidak diartikan sebagai lingkungan terbangun yang serba hijau, tapilebih menekankan kepada keselarasan dengan lingkungan global, yaitu udara, air,tanah dan api.

Definisi green architecture (arsitektur hijau) adalah sebuah kesadaranlingkungan arsitektur yang tidak hanya memasukkan aspek utama arsitektur (kuat,fungsi, nyaman, rendah biaya, estetika), namun juga memasukkan aspek lingkungandari sebuah green buildings yaitu efisiensi energi, konsep keberlanjutan dan pendekatansecara holistic terhadap lingkungan.



Green architecture memiliki pengertian sebagai sebuah istilah yang menggambarkan tentang ekonomi, hemat energi, ramahlingkungan, dan dapat dikembangkan menjadi pembangunanberkesinambungan.



Green architecture mencakup keselarasan antara manusia danlingkungan alamnya. Arsitektur hijau mengandung juga dimensi lain seperti waktu,lingkungan alam, sosio-kultural, ruang, serta teknik bangunan.Green architecture (arsitektur hijau) juga didefinisikan sebagai arsitektur yangberwawasan lingkungan dan berlandaskan kepedulian tentang konservasi lingkunganglobal alami dengan penekanan pada efisiensi energi (energy-efficient), polaberkelanjutan (sustainable) dan pendekatan holistik (holistic approach). Bertitik tolakdari pemikiran disain ekologi yang menekankan pada saling ketergantungan(interdependencies) dan keterkaitan (interconnectedness) antara semua sistim (artifisialmaupun natural) dengan lingkungan lokalnya dan biosfeer. Credo form follows energydiperluas menjadi form follows environment yang berdasarkan pada prinsip recycle,reuse, reconfigure.Konsep



Green architecture yaitu suatu konsep perancangan untuk menghasilkansuatu lingkungan binaan ( green building ) yang dibangun serta berjalan secara lestariatau berkelanjutan. Berkelanjutan merupakan suatu kondisi dimana unsur-unsur yangterlibat selama proses pemanfaatan suatu sistem sebagian besar dapat berfungsisendiri, sedikit mengalami penggantian atau tidak menyebabkan sumber lain berkurang jumlah serta kualitasnya.



Lingkup green architecture yang lebih sempit adalah green building. Green building (bangunan hijau) didefinisikan sebagai bangunan yang meminimalkan dampaklingkungan melalui konservasi sumber daya dan memberikan kontribusi kesehatan bagipenghuninya. Secara garis besar,



green building lebih ditekankan pada nyaman dankuat. Sedangkan green architecture penekanannya menyangkut pada aspek kekuatan,kenyamanan, estetika dan komposisi yang tetap mementingkan efisiensi energi, konsepberkelanjutan, dan pendekatan holistic.



DEFINISI

Bangunan hijau (Green Building) adalah bangunan berkelanjutan yang mengarah pada struktur dan pemakaian proses yang bertanggung jawab terhadap lingkungan dan hemat sumber daya sepanjang siklus hidup bangunan tersebut, mulai dari pemilihan tempat sampai desain, konstruksi, operasi, perawatan, renovasi, dan peruntuhan. Praktik ini memperluas dan melengkapi desain bangunan klasik dalam hal ekonomi, utilitas, durabilitas, dan kenyamanan.



Bangunan hijau (Green Building) dirancang untuk mengurangi dampak lingkungan bangunan terhadap kesehatan manusia dan lingkungan alami dengan:
· Menggunakan energi, air, dan sumber daya lain secara efisien
· Melindungi kesehatan penghuni dan meningkatkan produktivitas karyawan
· Mengurangi limbah, polusi dan degradasi lingkungan



Bagaimana dikatakan Green Building?

Suatu bangunan dapat disebut sudah menerapkan konsep bangunan hijau apabila berhasil melalui suatu proses evaluasi tersebut tolak ukur penilaian yang dipakai adalah Sisterm Rating.



Sistem Rating adalah suatu alat yang berisi butir-butir dari aspelk yang dinilai yang disebut rating dan setiap butir rating mempunyai nilai. Apabila suatu bangunan berhasil melaksanakan butir rating tersebut, maka mendapatkan nilai dari butir tersebut. Kalau jumlah semua nilai yang berhasil dikumpulkan bangunan tersebut dalam melaksanakan Sistem Rating tersebut mencapai suatu jumlah yang ditentukan, maka bangunan tersebut dapat disertifikasi pada tingkat sertifikasi tersebut.



Sistem Rating dipersiapkan dan disus;un oleh Green Building Council yang ada di negara-negara tertentu yang sudah mengikuti gerakan bangunan hijau. Setiap negara tersebut mempunyai Sistem Rating masing-masing. Sebagai contoh : USA mempunyai LEED Rating (Leadership Efficiency Environment Design)



Ada 6 (enam) aspek yang menjadi pedoman dalam evaluasi penilaian Green Building
· Tepat Guna Lahan (Approtiate Site Development / ASD)
· Efisiensi dan Konservasi Energi (Energy Efficiency & Conservation / EEC)
· Konservasi Air (Water Conservation / WAC)
· Sumber dan Siklus Material (Material Resource and Cycle / MRC)
· Kualitas Udara & Kenyamanan Ruang (Indoor Air Health and Comfort / IHC)
· Manajemen Lingkungan Bangunan (Building and Environment Management / BEM)



Penerapan aspek Green Building dari segi design bangunan yaitu
Bentuk dan Orientasi Bagunan



Gedung Menteri Kementerian Pekerjaan Umum memiliki bentuk massa bangunan yang tipis, baik secara vertikal maupun horizontal. Sisi tipis di puncak gedung didesain agar mampu menjadi shading bagi sisi bangunan dibawahnya sehingga dapat membuat bagian tersebut menjadi lebih sejuk. Pada desain gedung ini memiliki area opening yang lebih banyak di sisi timur. hal ini dikarenakan cahaya pada sore hari (matahari barat) lebih bersifat panas dan menyilaukan.

2. Shading & Reflektor

Shading light shelf bermanfaat mengurangi panas yang masuk ke dalam gedung namun tetap memasukan cahaya dengan efisien. Dengan light shelf, cahaya yang masuk kedalam bangunan dipantulkan ke ceilin. Panjang shading pada sisi luar light shelfditentukan sehingga sinar matahari tidak menyilaukan aktifitas manusia di dalamnya. Cahaya yang masuk dan dipantulkan ke ceiling tidak akan menyilaukan namun tetap mampu memberikan cahaya yang cukup.

3. Sistem Penerangan

Sistem penerangan dalam bangunan menggunakan intelegent lighting system yang dikendalikan oleh main control panel sehingga nyala lampu dimatikan secara otomatis oleh motion sensor & lux sensor. Dengan begitu, penghematan energy dari penerangan ruang akan mudah dilakukan.

4. Water Recycling System

Water Recycling System berfungsi untuk mengolah air kotor dan air bekas sehingga dapat digunakan kembali untuk keperluan flushing toilet ataupun sistem penyiraman tanaman. Dengan sistem ini, penggunaan air bersih dapat dihemat dan menjadi salah satu aspek penting untuk menunjang konsep green building.



Konsep Pembangunan Green Building. Beberapa aspek utama green building antara lain

1. Material

Material yang digunakan untuk membangun harus diperoleh dari alam, dan merupakan sumber energi terbarukan yang dikelola secara berkelanjutan. Daya tahan material bangunan yang layak sebaiknya teruji, namun tetap mengandung unsur bahan daur ulang, mengurangi produksi sampah, dan dapat digunakan kembali atau didaur ulang.

2. Energi

Penerapan panel surya diyakini dapat mengurangi biaya listrik bangunan. Selain itu, bangunan juga selayaknya dilengkapi jendela untuk menghemat penggunaan energi, terutama lampu dan AC. Untuk siang hari, jendela sebaiknya dibuka agar mengurangi pemakaian listrik. Jendela tentunya juga dapat meningkatkan kesehatan dan produktivitas penghuninya. Green building juga harus menggunakan lampu hemat energi, peralatan listrik hemat energi, serta teknologi energi terbarukan, seperti turbin angin dan panel surya.

3. Air

Penggunaan air dapat dihemat dengan menginstal sistem tangkapan air hujan. Cara ini akan mendaur ulang air yang dapat digunakan untuk menyiram tanaman atau menyiram toilet. Gunakan pula peralatan hemat air, seperti pancuran air beraliran rendah, tidak menggunakan bathtub di kamar mandi, menggunakan toilet hemat air, dan memasang sistem pemanas air tanpa listrik.

4. Kesehatan

Penggunaan bahan-bahan bagunan dan furnitur harus tidak beracun, bebas emisi, rendah atau non-VOC (senyawa organik yang mudah menguap), dan tahan air untuk mencegah datangnya kuman dan mikroba lainnya. Kualitas udara dalam ruangan juga dapat ditingkatkan melalui sistim ventilasi dan alat-alat pengatur kelembaban udara.



Manfaat Pembangunan Green Building

Manfaat Lingkungan
· Meningkatkan dn melindungi keragaman ekosistem
· Memperbaiki kualitas udara
· Memperbaiki kualitas air
· Mereduksi limbah



· Konservasi sumber daya alam

Manfaat Ekonomi
· Mereduksi biaya operasional
· Menciptakan dan memperluas pasar bagi produk dan jasa hijau
· Meningkatkan produktivitas penghuni
· Mengoptimalkan kinerja daur hidup ekonomi



Manfaat Sosial
· Meningkatkan kesehatan dan kenyamanan penghuni
· Meningkatkan kualitas estetika
· Mereduksi masalah dengan infrastruktur lokal



Ø Contoh bangunan ramah lingkungan



1. Bank of America Tower, New York

Bangunan ramah lingkungan dengan 54 lantai ini menggunakan energi matahari yang dikumpulkan sendiri memanfaatkan kembali limbah dan air hujan, menggunakan bahan baku untuk kontruksi dari sumber daya yang dapat terbarukan dan dari bahan daur ulang.

Kamis, 26 Maret 2015

STRUKTUR RUMAH KUDUS



Studi Struktur dan Konstruksi Bangunan Tradisional Rumah Pencu di Kudus

Rumah Pencu Kudus

Sumber : Hasil pengukuran lapangan (2011) 
Setelahnya dilakukan pengembangan ke sisi

luar pada keempat arah, depan (ngajeng),

belakang (wingking), samping kanan (iringan

tengen), dan samping kiri (iringan kiwa)

dengan penambahan blandar pananggap.

Pananggap ini sebagai perluasan dari ruang

inti rong-rongan. Batas-batas pada sisi luar

dibawah blandar pananggap ini dipasang

gebyok, gebyok merupakan panil-panil

pembatas ruang dalam dengan ruang luar.

Koneksi gebyok dengan tiang-tiang pananggap

menggunakan kaitan sistem panil, gebyok

dipasang dengan dijepit dua profil baik dari

dalam dan dari luar, kecuali gebyok pada

emper ditambahkan gebyok sorong.

Pada rumah pencu ditemukan karakter khusus

pada perluasan blandar pananggap yang

terjadi pada bagian depan/emper. Gebyok

yang ada pada segmen emper tidak segaris

dibawahnya blandar pananggap emper,

gebyok mundur 1 meter sebagai upaya

perluasan teras depan dan struktur gebyok

pun memiliki dua lapis karakter.

Seperti halnya telah dijelaskan didepan bahwa

bangunan joglosatru merupakan salah satu

khasanah bentukan griya jawa berkarakter

joglo, yang secara struktur mampu

mengantisipasi gempa disamping mampu

menopang beban dirinya sendiri. Kelenturan

struktur merupakan wujud dari sistem ikatan

yang tidak permanen, seperti ‘cathokan’

(sambungan coak dan lidah) dan ‘anjingan’

(ceblokan). Dua sistem koneksi ini merupakan

inti sistem gaya geser yang lentur, dengan

perkuatan pada arah beban yang akan terjadi,

sehingga mampu merespon, yang akibatnya

bangunan tidak mudah roboh.

Untuk melaksanakan pekerjaan dalam

mewujudkan bangunan rumah pencu yang

berkarakter joglo diawali merangkai soko-guru

dan blandarnya yang membentuk bangunan

balok berdiri yang merupakan ruang inti joglo

yang disebut sebagai rong-rongan yang berdiri

di 4 (empat) pondasi yang disebut umpak

dengan sistem ceblokan. Tidak ada ikatan

yang sifatnya permanen dalam sistem struktur

tersebut, penggunaan pantek (santek) sangat

dominan dalam membangun konstruksi

tersebut.

Tahapan selanjutnya membangun tumpang

dan sari yang merupakan elemen transisi

antara rong-rongan terhadap rangka dan

penutup atap dengan sebutan ‘brunjung’.

Tumpangsari bersifat menghilangan gaya

lateral yang diakibatkan oleh gempa. Momen

yang terjadi karena beban lateral oleh gempa

diserap dan dibuat nol oleh tumpang sari yang

dibantuk oleh kekuatan ikatan yang disebut

‘purus’.

Saat terjadi gempa, apa yang diterima oleh

bangunan melalui elemen pondasi

menunjukan momen nol. Pondasi yang

berbentuk umpak dengan sistem ikatan

ceblokan berlaku sebagai jepit (sendi)

sehingga bersifat diam, sedangkan momen

terbesar pada blandar dan sunduk yang

menopang tumpangsari.





pampbudhi